.

 

Komparasi Resistansi Busi

komparasibusi-00

Pilihan busi untuk mesin mobil atau motor kini sangat banyak khususnya untuk performance plug (busi kualitas premium). Namun banyaknya pilihan tersebut membuat kita semakin sulit memilih. Lebih parahnya lagi, pihak toko sering kali menawarkan busi-busi premium tersebut dengan iming-iming performa lebih oke, irit bahan bakar dan sebagainya.
Busi mahal tidak menjadi jaminan seratus persen cocok dengan mesin mobil atau motor kita.

Setiap mesin memiliki toleransi tertentu untuk spesifikasi busi yang digunakan.

Hal utama yang menjadi patokan umum adalah:

1. Heat Range:
Nilai angka ‘Heat Range’ dari suatu busi mewakili seberapa panas busi tersebut ketika sedang beroperasi dalam keadaan normal. Jika angka heat range tersebut cocok dengan karakter mesin tersebut, maka busi akan bekerja optimal. Jika busi terlalu panas, maka akan menimbulkan detonasi pada mesin (ngelitik) yang bisa merusak mesin itu sendiri. Sebaliknya, jika busi terlalu dingin, maka akan banyak penimbunan deposit pada ruang bakar akibat terjadinya gagal pengapian (misfire).

2. Ukuran Busi:
Busi yang ditemukan pada umumnya ada yang berdiameter kecil dan besar. Untuk hal ini jelas tidak boleh salah beli, pastikan sesuai dengan spesifikasi mesin tersebut.

3. Ukuran Gap:
Gap adalah jarak antara elektroda busi dengan ground. Pada umumnya ukuran gap adalah sekitar 0.8mm – 1.2mm. Untuk ukuran gap tersebut perlu melihat anjuran pada buku manual mobil atau motor tersebut. Beberapa model busi premium tidak bisa dirubah ukuran gap-nya karena desain busi itu sendiri tidak memungkinkan dilakukan perubahan gap.

4. Resistansi Busi:
Periksa jenis busi yang dianjurkan pabrik mobil atau motor tersebut, perhatikan apakah busi tersebut menggunakan Suppression Resistor di dalamnya.
Biasanya jika ada huruf R pada kode busi, itu menunjukkan busi tersebut menggunakan Suppression Resistor, contoh: NGK BKR6E-11 . Namun tidak selalu demikian, contoh: DENSO IK20 (tidak ada kode R, tapi menggunakan suppression resistor)

Suppression Resistor pada busi digunakan untuk meredam emisi akibat percikan api pada saat proses ignition terjadi. Emisi tersebut menyebabkan gangguan pada sistem kelistrikan dan sensor mesin. Pada umumnya mobil yang bermesin injeksi menggunakan busi dengan Suppression Resistor, namun tidak selalu demikian.
Semakin besar nilai Suppression Resistor berarti semakin besar hilangnya daya listrik yang dikirim ignition coil untuk membuat percik api pada busi. Akibatnya semakin besar nilai Suppression Resistor tersebut akan memperkecil percik api, kecuali jika kabel busi diganti dengan yang beresistansi kecil dan berdiameter besar.

Baiklah, saya coba share hasil pengujian nilai resistansi 15 model busi dari berbagai merek yang banyak ditemukan di toko-toko asesoris & spareparts.
Untuk pengujian, saya menggunakan Digital Ohm Meter, dilakukan pada suhu ruang 26ºC, pukul 01.10wib .

Berikut hasil komparasi Nilai Resistansi Busi


Dari hasil komparasi di atas, terlihat bahwa pada umumnya nilai Resistansi busi dengan Suppression Resistor adalah berkisar antara 4-5k ohm.

Pada busi yang di uji, ada busi yang memiliki ground lebih dari satu.
Pada kenyataannya, pada saat terjadi loncatan listrik, hanya ada satu loncatan api saja terjadi pada salah satu ground tersebut. Namun manfaatnya adalah erosi komponen tidak akan secepat busi biasa, dan kemungkinan terjadinya misfire bisa ditekan semaksimal mungkin oleh ground yang lebih dari satu tersebut.

Demikian sharing iseng saya, semoga bisa bermanfaat dikala data di atas di butuhkan suatu waktu.


Sumber referensi:
http://www.aa1car.com/library/sprkplg2.htm
http://www.ngksparkplugs.com
http://www.nology.com/
http://www.sparkplugs.com
http://www.globaldenso.com
http://www.boschusa.com

46 Responses to Komparasi Resistansi Busi

  1. frida firmansah says:

    mau nanya, mobil gw suzuki sx4 th 08 pada waktu idle kok rpmnya gak bisa stabil biasanya 1000 trus turun pe 500 jadi naek turun pa lagi kalo ac on, trus dipake jalan “jedut-jedut” gt…. pa pengaruh businya ya,,,

  2. Ahmad says:

    Saya tidak pernah ganti busi, karena saya tidak punya mobil.

  3. danil says:

    Mas mau nanya kalau pake coil mallory trus MSD6AL kabel busi pake kwalitas yg bgmn? Kira2 refrensinya merek apa? Sy menggunakan toyota hartop 2f thn 81 dan biasa sy pake buat offroad,thanks mohon sarannya mas!

  4. Dendy RJ says:

    saya punya mobil corolla great thn 1992
    kendala mobil yach, setelah jalan mobil normal, pas di angka koling suara mesin terdengar ngelitik aga keras, trus pas di hidupkan mesin aga lama dan mesin terdenar suara bunyi ngelitik dan mesin bergetar keras, apakah busi or apa yach, penyebabnya???

    • frankie_7 says:

      klo ampe bergeter keras mah bukan soal busi bos.
      bongkar blok mesinnya liat apa yg udah longgar ato rusak
      klo soal gelitik mah kemungkinan paling enak ya dalam mesin bos uda berkerak.. tinggal sedot semprot make carb cleaner di bengkel mana ajah juga ntr baekan bos..

      nah klo mesin bergetar keras coba ganti mountingnya..jgn mounting yg abal abal, kasi bawaannya toyota ori nya ajah. trus bilang ke bengkel langganan bos utk cek semua baut2 didalam kap mesin, krn itu mobil uda lebi 10 tahun mungkin ada besi2 yg slek atau bergerak dari posisi sebenarnya, atau ada baut2 yg longgar.

  5. Dendy RJ says:

    saya punya mobil corolla great thn 1992
    kendala mobil yach, setelah jalan mobil normal, pas di angka koling suara mesin terdengar ngelitik aga keras, trus pas di hidupkan mesin aga lama dan mesin terdenar suara bunyi ngelitik dan mesin bergetar keras, apakah busi or apa yach???

  6. bandi says:

    Hallo Boss soft
    mohon pencerahan nich, saya mempunyai kabel busi dan sudah saya ukur dengan OHM Meter hasilnya : 0.02 OHM kalau kabel tersebut saya rakit untuk mengganti kabel busi Mobil Amenity 1991 saya cocok tidak,…mohon penjelasan

  7. JSuwarta says:

    mo tanya ni om kalau mobilku Taruna Fgx cocoknya pake busi merk apa ya ?

  8. Harri says:

    oya lupa….
    mohon di japri juga ke imel ya kalo ada

    e36_054@yahoo.com

  9. Harri says:

    mau tanya Dunk Bro-bro senior…
    aq cari Busi Splitfire atau Bosch buat motor…dimana ya yg banyak jual dan asli.

    ada yg punya no telp.penjual yg bisa ditanyain ga??
    untuk Splitfire dan Bosch..??

    makasih sebelumnya…

  10. felix says:

    Mr. saft,
    minta info, kalau mobil tarikannya agak lambat atau tersendat-sendat apakah pengaruh dari jarak celah businya ? jarak berapakah untuk standar normalnya? kalau bukan dari busi, dari apanya ya?
    mobil saya Toyota Altis’01. Terima kasih atas infonya.

    Salam,
    Felix.

  11. irfan says:

    Buat tmn yang lain yang tau tentang sistem DLI yang dua koil pada satu mobil dan empat koil yang juga pada satu mobil. mohon saya di kirimi email di han.xcodex@gmail.com

  12. irfan says:

    Penting mas ..buat Ta. tolong balas di email saya diatas…. di han.xcodex@gmail.om

  13. irfan says:

    mas saya ingin tau tentang artikel dan gambar tentang sistem DLI Taruna atau jenis smua daihatsu yng menggunakan dua Koil

  14. darmawan says:

    mas kanjoe, pke carb cleaner gak apa2 koq, maqlah mampu ngancurin kerak loh.

  15. Bimo says:

    Mr Saft,

    Saya pakai busi NGK BPR 6EGP untuk mobil Terrano. Rencananya saya mau beli kunci busi untuk buka dan pasang busi baru. Berapa ukuran kunci busi untuk NGK BPR 6EGP, 19mm, 20 mm atau …? Harusnya kunci busi kan sudah standar ya ?

  16. kanjoe says:

    assalamualaikum,
    Saya ikut nambahin informasi tentang cara merwat busi. Diantaranya untuk bersihin busi, biasanya kalau bersihin secara kasar pakai ampelas. tapi biasanya aku pakai contact cleaner dari philips (tabung merah) untuk bersihin busi tiap 1 minggu sekali, hasilnya lumayan api yang dihasilkan bertambah besar. tapi kalau parah ya tetap harus diampelas.
    mungkin juga ada yang pernah pakai carburator cleaner ada yang pernah coba?

  17. yohanes andri says:

    mr saft
    saya punya yamaha new vega R, merk busi apa yang cocok dan kode2nya…..? kalau split fire, NGK iridium atau busi racing lainnya baiknya pakai yang mana dan kode2nya? perlu diketahui motor saya masih standard dan tidak ada perubahan di mesin juga digunakan sehari-hari…trims bgt sblmnya

  18. dian says:

    mr saft
    sebaiknya busi utk bmw m40 apa?..karena saya dah ganti busi 3x merk bosch dari yang kaki 1s/d 3…..tks

  19. Offroadventurer says:

    Oom, kalo untuk mobil teknologi jadul, mendingan pakai busi biasa aja ‘kali yah? Apinya bisa lebih gede….
    Ya nggak sih?

  20. Sripurw,- says:

    Bung Saft, apakah komparasi produk diatas memakai standart obyek yang sama. Misal obyek mobil Toyota Altis, standart businya merk A typenya X, dikomparasikan dg merk busi B,C,D dst dg equivalent type yg sama u/ Altis. Dg dmk akan enak membandingkannya. Akan tidak fair apabila kita melihat komparasi secara acak obyeknya. tengs

  21. yudhro says:

    Pak Saft,

    motor saya untuk busi rekomendasinya adalah NGK B9ECS, tapi kok saya tanya2 di semua toko spare part tidak ada yg mengerti yaa, kemudian ada juga yg memberitahu saya kalo busi itu sudah tidak ada lagi dan penggantinya adalah NGK B9EGV, tapi tetep aja ga ada toko spare part yg ngerti (fuiihhh..!!!) mohon informasinya donk, dimana yaa toko busi yg lengkap,,

    terima kasih

  22. holdenman says:

    ditunggu bahasan MSD 6 AL, atao produk lokalnya…

  23. lupa nambahin… tuk ampelas pake nomor 1000 . hasil maksimal bila pakai nomor 1500/2000 ….. ada istilah ” cecek ke pleset”…

  24. nah, praktek om Saft sangat saya dukung….
    khususnya tuk debat di beberapa milist otomotif jaman dulu….

    khan terbukti bahwa busi BOSCH kaki 4 saat iginition yg mengeluarkan api hanya 1 kaki …..

    saya juga mo nambahin, toek busi kaki 1 (NGK bkr6e,dll) dapat mengamplas elektrode busi agar dapat mengurangi ‘erosi’ & memperbesar contact point “api”, hasilnya api lebih besar & busi lebih awet…

    jd, busi Standar timor DOHC dah lumayan bagus ya om.. boleh ya aku inform temen2ku di milist timor-er agar mampir ke page ini..

  25. Saftari says:

    Adriel Says:
    Terima kasih atas jawaban-nya bung saft.
    Dari jawaban tadi. apakah dengan menambahkan modul pengapian (mis: MSD 6 AL) akan dapat menghilangkan misfire. Apakah fungsi sesungguh-nya dari modul pengapian, dan kerugian yang didapat apabila cuma diaplikasi bwat pemakaian sehari-hari

    Jawab:
    Oom Adriel,
    Ignition Management seperti MSD6AL bekerja sebagai berikut.
    Kondisi standard, satu pulsa ignition sama dengan satu spark yang terjadi pada busi.
    Oleh MSD6AL tersebut, dibuat menjadi satu pulsa ignition menjadi sama dengan hingga sembilan belas spark pada busi.
    Jadi bisa dibilang, busi akan memercik api lebih banyak percikannya dalam satu timing pengapian, sehingga jelas secara teori bensin akan dapat terbakar lebih banyak lagi sehingga tenaga yang dihasilkan lebih besar.
    Dengan demikian misfire bisa dikatakan hilang atau sangat minim terjadi.
    Jika dipakai untuk sehari-hari, tentunya yang akan cepat habis adalah busi. Teman saya akhirnya hanya menggunakan busi standard yang harganya tentu sangat murah, selain api menjadi lebih besar, tidak terlalu pusing dengan biaya tambahan sering ganti busi.

  26. Adriel says:

    Terima kasih atas jawaban-nya bung saft.
    Dari jawaban tadi. apakah dengan menambahkan modul pengapian (mis: MSD 6 AL) akan dapat menghilangkan misfire. Apakah fungsi sesungguh-nya dari modul pengapian, dan kerugian yang didapat apabila cuma diaplikasi bwat pemakaian sehari-hari.

  27. Offroadventurer says:

    Oom, kapan mengulas tentang MSD 6 AL?
    Please inform.

    Thanks a lot.

  28. Offroadventurer says:

    Oom,
    Buat mobil Toyota FJ-40 pemakaian offroad, apa yg cocok?

    Thanks

  29. supriyanto says:

    thank you very much and always spirit ok!!!!!

  30. Saftari says:

    Tomy Says:
    Benarkah busi Iridium tidak cocok digunakan untuk motor harian?
    Bahkan dengan kondisi mesin korek harian sekalipun?

    Jawab:
    Tergantung pada sistem pengapiannya oom.
    Kalau standardnya resistansi busi ternyata kecil banget, tentunya kalau diganti busi resistansi tinggi (iridium lumayan tinggi), api yang keluar malah lebih kecil dari sebelumnya.. kecuali jika coil pengapian diganti yang lebih muantaf atau ganti kabel busi nya yang resistansinya kecil.

  31. Tomy says:

    Benarkah busi Iridium tidak cocok digunakan untuk motor harian?
    Bahkan dengan kondisi mesin korek harian sekalipun?

    Mohon pencerahannya.

  32. Saftari says:

    Adriel Says:
    Bung Saft,
    Saya mau nanya “misfire” itu apa? terimakasih

    Jawab:
    Misfire itu singkatnya adalah gagal pengapian.
    Saat waktunya si busi untuk menyulut campuran udara dan bensin yang sudah terkompresi agar terbakar, namun tidak terjadi. Sehingga campuran tadi akan terbuang percuma karena tidak terbakar… tentunya untuk mesin adalah suatu kerugian.

  33. Adriel says:

    Bung Saft,
    Saya mau nanya “misfire” itu apa? terimakasih

  34. al supey says:

    om saftari,

    kalo splitfire bagus gak sih?
    nilai resitansinya paling gede
    kalo gw nangkep dari penjelasan om kaya’nya yang paling jelek yax
    mohon pencerahan om rada mendung nih disini

  35. Chaerul says:

    Bung Saft, motor saya (Honda M** P**) pake busi De** I x 24 apakah aman untuk pemakaian harian?
    Kenapa saya pake busi tersebut karena tingkat panasnya sama dengan busi D** standart yang tingkat panasnya 24.
    Terima kasih

  36. Kusharput says:

    Busi yg dites busi mobil semua ya?
    Yg motor donk termasuk yg racing seperti splitfire,iridium,platinum sama busi emas gsp.
    Lalu cara ngukurnya bgmn sih karena saya coba ukur sendiri kok nilainya sampe mega ohm.
    Thanks

  37. v.yanki says:

    question…saya masih kurang jelas, pada kondisi seperti apa busi tanpa resistansi itu dibutuhkan? atau sebaliknya? apakah ada kondisi khusus?

  38. Arika Bachtiar says:

    Om Saft..mesti ditambahin investigasi nya kali ya
    …..apakah resistansi bisa jadi acuan busi asli apa palsu?? soalnya ai pernah jadi korban busi aspal yang patah dan tertinggal di lubang busi??

  39. Saftari says:

    Paulus Says:

    Jadi kelihatannya ini menunjukkan lemahnya std kualitas yg bisa terjadi utk suatu busi. Oleh karena itu mungkin jika hendak beli busi, sebaiknya ukur dulu hambatannya walaupun busi yg hendak kita beli itu adalah busi yg sudah selalu kita pakai.

    Jawab:
    Oom Paulus, setuju banget tuh oom!..
    Juga pastikan akan kejujuran penjual tersebut, mengingat busi standard paling sering dipalsu. Sialnya lagi, dalam satu kardus terkadang dicampur antara yang asli dan yang palsu.
    Untuk yang bisa mencapai hingga belasan kilo ohm untuk busi tanpa resistor, ada kemungkinan terjadi retak atau pecah pada elektroda bagian dalam yang tidak terlihat, bisa karena terjatuh atau cacat pabrik apabila busi masih baru.

  40. Paulus says:

    Yth Boss Saft,

    Sebagai masukan, kadang hambatan busi untuk satu type busi yg sama saja bisa berbeda cukup jauh. Ini pernah saya buktikan sendiri ketika mentest busi NGK BP7ES utk stdnya mesin Eterna GTI. Ketika itu 4 buah busi tsb saya beli sendiri di toko parts langganan, kemudian ketika service di bengkel resmi, masing2 busi ditest dahulu hambatannya. Ternyata dari ke4 busi itu, tidak ada satupun yg hambatannya sama, yg paling kecil memang hambatannnya praktis 0 (ini yg seharusnya krn sesuai karakter BP7ES yg tanpa resistor), tapi ada juga yg paling besar bisa sampai belasan kilo ohm! Sangking kurang yakin, pengukuran saya lakukan berulang kali tapi hasilnya semua tetap sama. Jadi kelihatannya ini menunjukkan lemahnya std kualitas yg bisa terjadi utk suatu busi. Oleh karena itu mungkin jika hendak beli busi, sebaiknya ukur dulu hambatannya walaupun busi yg hendak kita beli itu adalah busi yg sudah selalu kita pakai.

    Demikian, semoga bermanfaat.

    Paulus

  41. wilz says:

    klo untuk mobil yang masih carburator tuh lebih baik pakai yang mana ya? yang ber-Suppression Resistor atau yang tidak? mohon bantuannya thx ^^

  42. tarjono says:

    rasa rasanya sih nilai resistansi berpengaruh pak, saya pernah punya pengalaman dengan busi beru silverstone, saya pasang di taruna saya…. setelah dipasang mesin langsung pincang, seperti busi mati, padahal baru beli. saya test pake avo meter, nilai hambatannya ada, test pake koil motor, tempelin ke massa, starter, semuanya ngeluarin api warna biru. berarti 4 busi ndak ada masalah.

    coba ganti pake bosch fr78x, ndak masalah, pake busi std, ndak masalah, pake autolite yg item (yg paling murah) ndak masalah, pake splitfire, ndak masalah juga.

    mungkin beru silverstone tidak cocok dengan mesin taruna karbu saya.

    belum coba lagi, masih penasaran sih ama busi ini…. tapi yg pasti pake kabel busi std jadi pincang, pake kabel busi huricane, pincang juga mesinnya…. baru kemaren ganti kabel busi splitfire…. ntar tak coba deh…. besok tak kabari pincang juga ato nggak….

    tapi saya sih percaya heat range berpengaruh pada performa mesin, kalau nilai hambatan berpengaruh pada “tepat” atau tidaknya percikan api… kalau nilai hambatan ndak “pas” yaa… mesin jadi pincang deh seperti busi mati…..

    trims

  43. TheOwner says:

    adi atmanto Says:
    menurut saya, besar nilai tahanan yang ada dibusi tidak ada pengaruh terhadap daya kerja busi, justru yang harus dilihat heat ranget dan celah busi, bahkan sepengetahuan saya resistance busi akan berubah nilainya tergantung suhu busi, oleh sebab itu dibuat busi panas dan busi dingin. sedangkan celah busi seharusnya kita mengikuti standar pabrikasi, karena pada celah tersebut igntion coil STD dapat bekerja dengan baik. trm ksh.

    Jawab:
    Oom Adi Atmanto, Thanks atas masukannya.
    Saya pernah menguji 3 jenis busi dengan dibantu Gas Analyzer, untuk menganalisa pengaruh resistansi busi terhadap karakter mesin melalui uji emisi gas buang. Dimana jika resistansi busi tidak cocok dengan karakter mesin, pengaruhnya adalah nilai HC tinggi dan boros bahan bakar.
    Silahkan baca sharing saya

    “Pilih Busi ber-Resistor atau Busi Biasa?” – http://saft7.com/?p=122

    Jadi tulisan di atas minimal bisa menjadi referensi atau bahan pertimbangan sebelum mengganti busi dengan busi mahal namun ternyata tidak cocok dengan karakter mesin mobil atau motor kita.

    Thanks in advance,
    saftari.

  44. adi atmanto says:

    menurut saya, besar nilai tahanan yang ada dibusi tidak ada pengaruh terhadap daya kerja busi, justru yang harus dilihat heat ranget dan celah busi, bahkan sepengetahuan saya resistance busi akan berubah nilainya tergantung suhu busi, oleh sebab itu dibuat busi panas dan busi dingin. sedangkan celah busi seharusnya kita mengikuti standar pabrikasi, karena pada celah tersebut igntion coil STD dapat bekerja dengan baik. trm ksh.

  45. ito says:

    Assalamualaikum Kang Saft,…barusan saya klik link ke NGKsparkplug, dan coba cek busi untuk mitsubishi lancer, disitu ada 3 pilihan, standar, G-Power dan Iridium IX, menurut Kang Saft yang mana yang rekomen untuk pemakaian sehari-hari yah? karena standar Lancer kan pakai NGK juga, pertanyaan nya, kalo diganti dengan G-power atau Irridium, apakah kabel busi juga harus diganti? pengaruh ke performance gimana? makasih Kang…(kebetulan saya mau ke ditech injection, mau tune up injector dan ganti busi sekalian)
    BTW….saft7.com cukup informatif buat yang newbie seperti saya kang…

    Wassalam
    Ito

Leave a Reply





Switch to our mobile site

Tips Otomotif saft7.com